Asal Mula Sungai Kapuas

0
Di Kalimantan Barat terdapat sebuah sungai yang lebar dan panjang, sungai ini terkenal di seluruh Indonesia. Narnanya Sungai Kapuas. Sungai Kapuas ini banyak cabangnya. Cabang-cabangnya berupa sungai-sungai yang kecil dan jumlahnya banyak. Salah satu cabangnya adalah Sungai Kawat. Mengapa dinamakan Sungai Kawat? Nah simaklah cerita di bawah ini.
     Sungai Kawat terletakdi kota Sintang, Kalimantan Barat. Pada zaman dahulu, ketika kota Sintang baru didirikan oleh Djubair I, hiduplah seorang nelayan sungai dengan istri dan anak-anaknya. Mereka tinggal tidak jauh dari Sungai Kawat itu.
     Keluarga nelayan itu tergolong keluarga miskin. Setiap hari sang ayah hanya menggantungkan hidupnyadari menangkap ikan. Kadang-kadang mujur, tetapi ada kalanya sehari penuh ia tidak mendapatkan seekor ikan pun.
     Pada suatu hari, nelayan itu pergi memancing. la rnembawa dua buah pancing. Hal ini dilakukan untuk menjaga kemungkinan jika pancingnya putus, ia masih dapat menggunakan pancingnya yang sebuah lagi.
la mendayung perahunya masuk ke Sungai Kawat (saat itu belum ada namanya). Setelah pancing itu diberi umpan, pancing itu diulurkannya ke air dan ia menunggu pancingnya ditarik oleh ikan. Matahari telah tinggi, namun tidak seekor ikan pun mendekati pancing si nelayan, apalagi untuk memakan umpannya. Akan tetapi, nelayan itu tidak lekas putus asa. Telah beberapa kali ia berpindah tempat di sungai itu, tetapi keadaannya sama saja. Nelayan itu telah bertekad bahwa jika ia pulang ke rumah, ia harus rnembawa ikan untuk anak dan istrinya walaupun hanya seekor.
     Ketika matahari mulai condong ke ufuk barat, ia mendayung perahunya lebih ke hulu sungai dengan harapan di sana ada ikan yang akan menarik pancingnya. Di sebuah teluk kecil yang banyak batunya, nelayan itu berhenti.tanah di sekitar tempat itu berlumut dan ditumbuhi pohon-pohon.kayu yang besar.
     "Mungkin di sini banyak ikannya," pikir nelayan itu.
     la mulai mengganti umpan pancingnya dengan umpan yang baru. Kemudian pancing itu diulurnya ke dalam air. Setelah begitu lama ia menunggu, tidak ada tanda-tanda pancingnya akan ditarik oleh ikan. Ketika matahari hampirterbenam dan nelayan itu akan pulang, tiba-tiba pancingnya ditarik dengan keras dari dalam air. Nelayan itu mengangkat pancingnyadan sekaligus menyentaknya ke atas. "Ah, besar sekali ikan ini," pikirsi nelayan.
     Ikan itu menyangkut di pancing dan menarik tali pancing itu ke sela-sela batu yang ada di tepi sungai. Tali pancing terus diulur lebih panjang oleh si nelayan agar pancing itu tidak putus. Ketika tarikan dari dalam air mulai melemah, nelayan itu menarik kembali tali pancingnya ke atas. Pada saat si nelayan sedang menarik pancingnya, tali pancing itu ditarik kembali dari dalam air mengarah ke tengah sungai. Dengan cepat, nelayan itu mengulurkan pancingnya kembali agar tidak putus. Ketika itu hari sudah mulai gelap. Tambahan lagi, daun-daun yang rimbun menambah kegelapan di tempat itu. Nyamuk-nyamuk yang mengerubungi si nelayan tidak dihiraukannya. Pikirannya hanya tertuju pada ikan yang akan diperolehnya.
     Pada saat tarikan dari dalam air ke tengah sungai, perahu nelayan itu ikut tertarik ke tengah sungai. Teluk sungai itu cukup dalam. Warna airnya tampak kehitam-hitaman karena hari telah gelap.
     Akhirnya, tarikan dari alam air mulai melemah. Si nelayan mulai menarik kembali tali pancingnya ke atas. Akan tetapi, ikan itu belum tampak. Nelayan itu lebih berhati-hati agar ikannya tidak lepas.
     Ketika seluruh tali pancingnya telah terangkat, tidak seekor ikan pun tampak. Yang menyangkut pada pancingnya adalah ujung tali kawat.
     "Wah, ikannya lepas," pikirsi nelayan. Tangannya menjangkau ujung kawat yang menyangkut di pancingnya. la mengamati ujung kawat itu dalam keremangan malam. Tampak olehnya kawat itu berwarna kekuning-kuningan. Setelah diketahui bahwa kawat itu adalah kawat emas, ia mulai menariknya.
     Satu depa, dua depa, ia merasa belum cukup juga. Padahal kalau ia mau bersyukur dengan satu dua depa saja hidupnya akan berkecukupan, tidak akan menderita kemiskinan. Namun sifat serakah telah merasuki dirinya. la ingin menjadi orang paling kaya di kampungnya. Maka ia ingin mendapatkan kawat emas itu sebanyak-banyaknya. la terus menarik dan menarik kawat itu dari dalam sungai. Meskipun sudah lama ia menariknya,.kawat itu belum juga habis.
     "Ah, panjang sekali. Aku akan menjadi orang paling kaya di seluruh dunia," pikir si nelayan. ia terus menarik kawat itu tanpa menghiraukan hari semakin gelap. Sampannya telah penuh-dengan gulungan kawat emas. la terus menarik dan menarik kawat emas yang tidak habis-habisnya itu.
Dari dalam air terdengar suara, "Sudaaaaaaaah, sudahlah, potong saja kawatnya."
     Namun, si nelayan tidak menghiraukan suara itu. la terus menarik dan menarik kawat itu karena ia ingin cepat menjadi kaya raya.
     Terdengar lagi suara dari dalam air memperingatkannya untuk kedua kalinya. "Potooooooooong, potong sajaaaaaaaa ...!"
     "Berhentiiiiiii...! Jangan diteruskaaaan!"
     Akan tetapi, nelayan itu tetap saja tidak peduli. Karena perahu nelayan itu sudah terlalu penuh dengan kawat emas maka air pun mulai masuk.
     Si nelayan yang telah menjadi rakus tetap belum berhenti menarik kawat. Sementara perlahari-lahan air terus merambat ke dalam perahu. Nelayan itu baru sadar setelah air benar-benar telah memenuhi perahu.     Namun terlambat, seketika itu juga perahu itu tenggelam bersama si nelayan ke dasar sungai.
Nelayan itu tidak pernah timbul, ia mati di dasar sungai akibat keserakahannya yang berlebihan. Itulah sebabnya sungai itu dinamakan Sungai Kawat.

0 komentar:

Sejarah Singkat Kota Kuala Kapuas dan Kabupaten Kapuas

0
Kabupaten Kapuas dengan ibukotanya Kuala Kapuas adalah satu satu kabupaten otonom eks daerah Dayak Besar dan Swapraja Kotawaringin yang termasuk dalam wilayah Karesidenan Kalimantan Selatan. Suku Dayak Ngaju merupakan penduduk asli Kabupaten Kapuas. Suku ini terdiri dari dua sup suku: Suku Oloh Kapuas – Kahayan dan Oloh Otdanum.

Menurut penuturan Pusaka “Tetek Tatum” nenek moyang suku Dayak Ngaju pada mulanya bermukim disekitar pegunungan Schwazener di sentra Kalimantan (Alang 1981). Barulah pada perkembangan berikutnya suku Dayak Ngaju bermukim menyebar di sepanjang tepi Sungai Kapuas dan Sungai Kahayan.
Pada abad ke-16 dalam naskah Negarakertagama yang ditulis oleh pujangga Empu Prapanca dari Majapahit pada tahun 1365 M, menyebutkan adanya pemukiman. Kemudian dalam naskah hikayat Banjar, berita Tionghoa pada masa Dinasti Ming (1368-1644) dan piagam-piagam perjanjian antara Sultan Banjarmasin dengan pemerintah Belanda pada babat ke-19 memuat berita adanya pemukiman sepanjang Sungai Kapuas dan Sungai Kahayan yang disebut pemukiman Lewu Juking.

Lewu Juking merupakan sebuah pemukiman berumah panjang yang terletak di muara Sungai Kapuas Murung (bagian barat delta Pulau Petak yang bermuara ke Laut Jawa) sekitar 10 km dari arah pesisir laut Jawa yang dipimpin oleh kepala suku bernama Raden Labih. Penduduk Lewu Juking dan penduduk sekitarnya sering diserang oleh rombongan bajak laut. Walaupun beberapa kali rombongan bajak laut dapat dipukul mundur oleh penduduk Lewu Juking dan sekitarnya, tetapi penduduk merasa kurang aman tinggal di daerah tersebut, sehingga pada tahun 1800 banyak penduduk pindah tempat tinggal mencari tempat yang jauh lebih aman dari gangguan bajak laut.

Akibat perpindahan penduduk Lewu Juking dan sekitarnya, maka sepanjang arah Sungai Kapuas dan Sungai Kapuas Murung bermunculan pemukiman-pemukiman baru, seperti di tepi Sungai Kapuas Murung muncul pemukiman Palingkau yang dipimpin oleh Dambung Tuan, pemukiman Sungai Handiwung dipimpin oleh Dambung Dayu, pemukiman Sungai Apui (seberang Palingkau) dipimpin oleh Raden Labih yang kemudian digantikan oleh putranya Tamanggung Ambu. Sedangkan ditepi Sungai Kapuas terdapat pemukiman baru, seperti Sungai Basarang dipimpin oleh Panglima Tengko, Sungai Bapalas oleh Panglima Uyek dan Sungai Kanamit dipimpin oleh Petinggi sutil.

Penyebaran penduduk disepanjang tepian sungai tersebut tidak dapat diperkirakan ruang dan waktunya secara tepat. Kawasan ini pada bagian hilirnya masih merupakan rawa pasang surut yang tidak mungkin menghasilkan rempah-rempah sebagai komoditi perdagangan. Kawasan Kapuas-Kahayan bersama penduduknya masih terisolasi sekian lama dari hubungan dengan dunia luar.

Bulan Pebruari 1860, dalam rangka mengawasi lalu lintas perairan di kawasan Kapuas, pihak Belanda membangun sebuah Fort (benteng) di Ujung Murung dekat muara Sungai Kapuas, sekitar rumah jabatan Bupati Kapuas sekarang. Bersama dengan adanya benteng di tempat tersebut, lahirlah nama “Kuala Kapuas” yang diambil dari sebutan penduduk setempat, yang sedianya menyebutkan dalam Bahasa Dayak Ngaju “Tumbang Kapuas”. Seiring dengan itu ditempatkanlah seorang pejabat Belanda sebagai Gezaghebber (pemangku kuasa) yang dirangkap oleh komandan benteng yang bersangkutan, sehingga kawasan Kapuas-Kahayan tidak lagi berada dibawah pengawasan pemangku kuasa yang berkedudukan di Marabahan. Disamping itu ditunjuklah pejabat Temanggung Nicodemus Ambu sebagai kepala distrik (districtshoofd).
Sementara itu perkampungan diseberang, yakni di Kampung Hampatung yang menjadi tempat kediaman kepala distrik yang pada saat itu bertempat disekitar Sei Pasah. Sejak terbentuknya Terusan Anjir Serapat Tahun 1861, berangsur-angsur berubah dari pemukiman rumah adat betang menjadi perkampungan perumahan biasa. Selanjutnya bertambah lagi Stasi Zending di Barimba pada Tahun 1968, disusul munculnya perkampungan orang Cina diantara Kampung Hampatung dan Barimba, serta terbentuknya perkampungan dengan nama Kampung Mambulau disekitar Kampung Hampatung.

Dari berbagai peristiwa dan keterangan tersebut, akhirnya dijadikan sebagai acuan untuk Hari Jadi Kota Kuala Kapuas, yaitu dari bermulanya Betang Sei Pasah yang didirikan sebagai satu-satunya pemukiman adat yang tertua dilingkungan batas Kota Kuala Kapuas (yang masih utuh sewaktu permulaan pembangunan kota ketika Temanggung Nicodemus Jayanegara). Penyempurnaan buku sejarah Kabupaten Kapuas pada tanggal 1-2 Desember 1981 di Kuala Kapuas, menetapkan Hari Jadi Kota Kuala Kapuas pada tanggal 21 Maret 1806 berdasarkan atas berdirinya Betang Sei Pasah pada tahun 1806.

Terbentuknya Pemerintah Kabupaten Kapuas, sejak Proklamasi Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 saat kedatangan pasukan Australia yang bertugas melucuti senjata Jepang dibawah pimpinan Kolonel Robson yang ikut membonceng rombongan orang Belanda dari organisasi bersenjata NICA dibawah pimpinan Mayor Van Assendep. Sebelum pasukan Australia meninggalkan Banjarmasin pada tanggal 24 Oktober 1945 pihak NICA telah menyusun administrasi pemerintahan untuk wilayah Borneo Selatan dibawah pimpinan Residen Abley sampai awal Desember 1945. Pihak Belanda belum menjamah daerah Kapuas sekalipun instruksi mereka telah disampaikan kepada para pejabat Indonesia yaitu para mantan Guncho (Kepala Distrik) di Kuala Kapuas dan Kuala Kurun untuk melakukan tugas pemerintahan sebagaimana biasa dan untuk pertama kalinya pihak pejabat setempat (Hoofd Van Plaatselijk Bestuur) pada masa sebelumnya dijabat oleh seorang Belanda Gezaghebber ataupun kontrolir ditempat yang bersangkutan.

Pada tanggal 17 Desember 1945 pihak Belanda / NICA datang langsung ke Kuala Kapuas dengan melewati perlawanan rakyat oleh Haji Alwi disekitar kilometer 9,8 Anjir Serapat. Pada tahun 1964 dengan mantapnya kekuasaan Belanda di Kalimantan, daerah Kapuas sedikit dimekarkan dengan membentuk onderdistrick baru yaitu onderdistrik Kapuas Hilir beribukota Kuala Kapuas, onderdistrik Kapuas Barat beribukota Mandomai, onderdistrik Kapuas Tengah beribukota Pujon, onderdistrik Kahayan Tengah beribukota Pulang Pisau, dan onderdistrik Kahayan Hulu beribukota Tewah.

Pada akhir tahun 1946 (tanggal 27 Desember 1946) di Banjarmasin terbentuk Dewan Daerah Dayak Besar, yaitu suatu Badan Pemerintah Daerah yang meliputi Apdeling Kapuas Barito (tidak termasuk Lanshap Kotawaringin) atas dasar Zelfbestuurs Regeling / Reheling (peraturan swapraja) tahun 1938 sebagai ketua adalah Groeneveld (eka asisten residen), wakil ketua Raden Cyrillus Kersanegara dan sekretaris Mahar Mahir. Hasil pemilihan anggota Dewan Dayak Besar, terpilih sebagai ketua Haji Alwi, wakil ketua Helmuth Kunom, sekretaris Roosenshoen, anggota badan pengurus harian adalah Markasi dari Sampit, Barthleman Kiutn dari Barito, Adenan Matarip dan Ed. Tundang dari Kapuas.

Pada tanggal 14 April 1950 atas dasar tuntutan rakyat dengan didasari keyakinan sendiri untuk memenuhi aspirasi rakyat, pihak Dewan Daerah Dayak Besar menentukan sikap peleburan diri secara resmi ke dalam Negara Republik Indonesia dengan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor: C.17/15/3 Tanggal 29 Juni 1950, menetapkan tentang Daerah-Daerah di Kalimantan yang sudah bergabung dalam Republik Indonesia dengan administrasi pemerintahnya terdiri dari 6 daerah Kabupaten yaitu Banjarmasin, Hulu Sungai, Kota Baru, Barito, Kapuas dan Kotawaringin, serta 3 daerah swapraja yaitu Kutai, Berau dan Bulongan.
Pada akhir tahun 1950 kepala kantor persiapan Kabupaten Kapuas Wedana F. Dehen memasuki usia pensiun dan diserahkan kepada Markasi (mantan anggota Dewan Daerah Dayak Besar). Kemudian pada bulan Januari 1951, Markasi diganti oleh Patih Barnstein Baboe.

Pada hari Rabu tanggal 21 Maret 1951, di Kuala Kapuas dilakukan peresmian Kabupaten Kapuas oleh Menteri Dalam Negeri dan sekaligus melantik para anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sementara. Pada saat itu Bupati belum terpilih dan sementara diserahkan kepada Patih Barnstein Baboe selaku kepala eksekutif.

Pada awal Mei 1951 Raden Badrussapari diangkat selaku Bupati Kepala Daerah Kabupaten Kapuas yang pertama. Pelantikannya dilaksanakan pada tanggal 9 Mei 1951 oleh Gubernur Murdjani atas nama Menteri Dalam Negeri.

Oleh masyarakat Kabupaten Kapuas setiap tanggal 21 Maret dinyatakan menjadi Hari Jadi Kabupaten Kapuas dan bertepatan dengan peresmian Pemerintah Daerah Kabupaten Kapuas.

Pada tahun 2002 Kabupaten Kapuas telah dimekarkan menjadi 3 (tiga) kabupaten yaitu Kabupaten Kapuas sebagai kabupaten induk dengan ibukota Kuala Kapuas, terdiri dari 12 kecamatan; Kabupaten Pulang Pisau dengan ibukota Pulang Pisau, terdiri dari 6 kecamatan, dan Kabupaten Gunung Mas dengan ibukota Kuala Kurun terdiri dari 6 kecamatan.

Bupati Kapuas Dari Periode Ke Periode
1.       G. Obos – Periode 1955-1958
2.       Y. C. Rangkap – Periode 1958-1960
3.       Ben Brahim – Periode 1958-1960
4.       Piter K. Sawong – Periode 1960-1962
5.       E. Mahar – Periode 1962-1964
6.       L. B. Binti – Periode 1964-1966
7.       Untung Surapati – Periode 1966-1975
8.       B.A. Tidja – Periode 1975-1976
9.       H. Moch. Adenan – Periode 1976-1988
10.   H. Endang Kosasih – Periode 1988-1993
11.   H. Odji Durachman – Periode 1993-1998
12.   Ir. H. Burhanudin Ali – Periode 1998-2008
13.   Ir. H. M. Mawardi, MM – Periode 2008-2013
14.   Ir. Ben Brahim S. Bahat – Periode 2013-2018

0 komentar:

MISTERI SUNGAI KAPUAS

0

Puaka di Sungai Kapuas.. Kisah Misteri Penunggu Sungai Kapuas

Sungai Kapuas, sebuah sungai terpanjang di Indonesia yang mungkin orang Indonesia sendiri tidak banyak yang mengenalnya.  Sungai Kapuas membentang dari arah Putussibau Kabupaten Kapuas Hulu dan bermuara di Kabupaten Kubu Raya Kalimantan Barat.  Aku punya cerita tentang masa kecilku yang tidak akan aku lupakan tentang misteri ‘penunggu’ atau penjaga di Sungai Kapuas ini.  Ini cerita ketika aku masih duduk dikelas 2 SMP, atau sekitar tahun 1994.
Dari zaman dahulu kala aku sering mendengar mitos adanya “puaka” dan istana jin didasar sungai kapuas.. tapi benarkah itu? Hingga kini aku sendiri tidak tahu kebenarannya.  Puaka adalah sebutan masyarakat setempat yang artinya penunggu atau hantu penunggu, atau identik dengan sesuatu mahluk yang besar dan tinggal sejak lama disuatu wilayah.  Aku tinggal di pinggir sungai kapuas, tepatnya di kelurahan tanjung kapuas kota Sanggau kalimantan Barat.  Waktu itu kegiatan Mandi Cuci Kakus kami lakukan di meting (jamban, kakus) yang terapung dipinggiran sungai.
Aku sangat hobby sekali berenang, setiap mandi sore aku selalu menghabiskan waktu di sungai kapuas ini.  Sungai kapuas adalah sungai yang sangat besar, lebarnya bisa mencapai 600 meter dan dalamnya ketika pasang bisa lebih dari 15 meter.  Sungai ini terlihat tenang namun sebenarnya lumayan deras dan menghanyutkan, sehingga anak2 kecil di kampungku itu sering sekali bermain dengan menghanyutkan diri dari hulu sungai ke hilir sungai.  Menghanyutkan diri maksudnya menaiki pelampung yang terbuat dari ban dalam bekas yang besar, kalo ban dalam motor terlalu kecil hehe..  Istilah dalam bahasa Sanggau dikenal dengan nama “nganyut” artinya menghanyutkan.

Bermain nganyut ini sangat mengasyikkan dan dilakukan beramai-ramai.. karena kalo sendirian gak seru. Caranya cukup dengan membawa sebuah pelampung besar kemudian berjalan melewati tepi sungai ke arah hulu sejauh-jauhnya.  Kemudian setelah mendapatkan tempat yang cukup jauh, kami berenang menuju ketengah –tengah sungai atau sejauh2nya dari tepi sungai.  Arus yang deras tanpa riak membuat kami seolah2 berjalan dengan sendirinya diatas pelampung tersebut, dengan demikian kami bisa sambil menikmati pemandangan ditepi sungai maupun langit.
Setelah sampai dihilir sungai atau jamban tempat pertama kali kami berkumpul, pelampung kami kayuh hingga ketepi dan naik keatas jamban… selanjutnya kami bisa mengulanginya berulang kali sampai puas.
Waktu itu hari sangat cerah, langit2 nampak biru dengan cuaca yang tidak terlalu panas.  Aku pun bertemu dengan teman2 sekampungku untuk sama2 nganyut di sungai kapuas… Tak diduga ternyata yang ikut bermain sangat ramai sekali, kalau tidak salah mungkin sekitar 5-6 pelampung besar, satu pelampung bisa muat untuk 3 orang.
Di tengah sungai, kami dengan riangnya menikmati pemandangan sambil menghanyut oleh aliran sungai.. ada yang cerita2, ada yang bernyanyi, ada yang salto2 dari atas pelampung dan ada yang melamun.  Entah kenapa ada juga beberapa kawan yang ngomong2 kotor dan makian ketika kami ditengah sungai itu… Tiba-tiba, langit menghitam… cuaca yang cerah tiba2 gelap dan angin tiba2 bertiup dengan kencang.. hujan deraspun turun mendadak.  Kala itu aku justru kegirangan dan bertepuk tangan, karena kalo mandi disungai ketika hujan sangatlah asyik rasanya.
Tetapi tawa riang ku tadi mendadak menjadi mencekam, tiba2 sebuah petir besar menyambar kearah yang tidak jauh dari kami… sambarannya nyaris mengenai air tersebut.  Tak ayal lagi formasi pelampung kami pun berantakan karena semua ketakutan, semuanya langsung berenang menuju tepi sungai.  Anehnya, ketika kami sudah sampai ditepi sungai… hujanpun mendadak berhenti, dan tiba2 angin hitam yang tadinya ada sedikit demi sedikit terhapus dan pergi.
Kejadian aneh ini sama sekali tidak kami sadari.. hehe maklum masih anak kecil, belum ngerti dan masih lugu.  Kami pun pulang kerumah masing2 dan kembali janjian untuk bertemu lagi besok.
Besoknya seperti biasa kami berkumpul lagi, kali ini jumlahnya makin banyak.. mungkin sekitar 8-10 pelampung aku tidak ingat.  Dan kali ini kami pun lebih jauh lagi menuju hulu sungai agar makin lama terhanyutnya., belum lagi kami pun makin ketengah dan mungkin lebih ketengah lagi dari hari kemarin.  Seperti biasa, kami menikmati pemandangan dari tengah sungai melalui pelampung yang terhanyut tersebut.  Ada yang nyanyi, ada yang ketawa2, ada yang cerita2, ada yang melamun… itulah aku, aku melamun memandangi seberang sungai sambil bersenandung.
Tiba2 aku melihat ada gelombang yang cukup besar datang dari arah tengah sungai menuju ketepi sungai.  Aku mengira itu adalah gelombang akibat speed boat yang lewat.. dan akupun sama seperti kemarin bertepuk2 tangan gembira.. “woii gelombang woii gelombang!!” kataku kegirangan.. kawan2 pun merasa girang karena kalau ada gelombang akan lebih seru bisa mengayun2 di pelampung.
Tetapi apa yang terjadi ? ketika gelombang yang datang dari jauh itu mendekat, ternyata gelombang tersebut lebih tinggi dari yang kami bayangkan.. besarnya seperti ombak laut.. sekitar satu meter begitu.  Kami pun semuanya terpelanting dan terbawa ke tepi sungai akibat dorongan gelombang besar aneh itu.
Jamban2 yang ada ditepi sungai juga terhempas ketepi akibat gelombang besar itu, ada yang lagi nyuci dijamban juga terjatuh karena sapuan gelombang tersebut.  Apa ya..? kami pun keheranan.. karena tidak ada speed biat yang melintas dan tidak ada hal2 lain yang menyebabkan adanya gelombang di sungai saat itu.  Kemudian datanglah Pak Itam menghampiri kami.. orang tua yang paling disegani dikampungku datang menghampiri kami dan memarahi kami.. “Kalian… puaka marah dengan kalian tahu nggak!! Besok2 jangan lagi main2 ditengah kapuas..!! kalian dengar ?”  kami pun mengangguk dan membubarkan diri.
Setelah kejadian itu aku tak pernah bermain lagi di sungai… Hingga kini kejadian misterius ini masih aneh bagiku.  Mana ada hujan yang sangat lebat mendadak berhenti dan langsung cerah dalam waktu singkat, dan selama bertahun2 aku mandi di sungai baru kali itu aku melihat gelombang sebesar itu yang hampir tidak pernah terjadi di sungai.
Puaka Sungai Kapuas Berbentuk Ular ?
Entah benar entah tidak, menurut cerita yang masih dicari kebenarannya… dikatakan bahwa Sungai Kapuas yang membentang di Kota Sanggau Kapuas memiliki kerajaan di alam ghaib.  Selain itu ada pula Puaka (Mahluk Ghaib) yang menjaga sungai tersebut.
Diceritakan bahwa ada seekor ular besar yang melintang didasar sungai kapuas (di alam ghaib nya).  Dimana ekornya tepat di muara Sungai Sekayam dan kepalanya ada di daerah pancur aji..   Daerah pancur aji ini terletak di tikungan sungai kapuas, apabila air pasang maka akan ada pusaran besar di tikungan tersebut.
Pancur Aji memiliki Air terjun setinggi 7 tingkat, untuk mencapai tingkat teratasnya sangat sulit dan perlu mendaki.. Dulu saya pernah menuju ke tingkat 7 dari air terjun ini, waktu itu saya mendatanginya melewati sungai kapuas dan masuk lewat anak sungai yang kecil di tepi sungai kapuas.  Sekarang ada tempat wisata Pancur Aji di kota Sanggau, namun saya tidak tahu apakah air terjun di tempat wisata ini adalah Pancur Aji yang pernah saya datangi 10 tahun yang lalu.. karena waktu itu saya masuk lewat anak sungai.
Bila diperhatikan dari pengalaman misteri diatas, bahwa ada gelombang mendatar dan mengarah hanya kesebelah tepi sungai.. artinya ada sebuah benda atau mahluk panjang yang mengibaskan tubuhnya secara satu arah sehingga membentuk gelombang aneh itu.. benar gak ya?
Kalau itu gelombang karena speed boat, jelas tidak mungkin.. karena tidak ada speed yang melintas dan tidak mungkin ada speed yang membuat gelombang seaneh itu.  Dan mengapa hanya satu arah? Seharusnya gelombang yang berasal dari tengah sungai akan mengarah dari sisi tepi kiri dan tepi kanan sungai. (lihat gambar).  Sedangkan gelombang yang kami lihat adalah dari seberang sungai ke arah tepi sungai tempat kami menghanyut.



Secara logika jelas ini tidak masuk akal, hmm… saya mencoba menguak kebenaran misteri ini bertahun2 tapi tetap bingung.  Dan ketika saya kembali mengingat puaka yang diceritakan orang2 zaman dulu itu mungkin saja benar.. bisa jadi puaka tersebut mengibaskan ekornya atau membuat gelombang satu arah dengan ekornya.. apa mungkin benar??
Jelas tidak ada bukti yang bisa menguatkan misteri penunggu sungai kapuas di kota Sanggau ini, tetapi misteri ini tetap aku ingat sampai kapanpun.  Kejadian aneh yang membingungkan dan tidak pernah terekspose sebelumnya… masih dicari kebenarannya.

0 komentar: